.musically.flickering.digital.culinary.experiences.

Terbaru

Layar Tancap 5.1: Pemutaran Ruang Terbuka Kualitas Bioskop

Layar Tancep

Di Publish di Cinema Poetica

Ditulis oleh: Wahyu Tri Purnomo / iponxonik
Diedit oleh : Adrian Jonathan

Semua orang butuh hiburan, karena kita semua butuh pelepasan, dari stress bekerja seharian, stress karena masalah di rumah, stress karena diputusin pacar, apapun. Semua orang perlu hiburan sebagai sarana pengalihan, dan salah satu bentuk hiburan yang cukup populer adalah menonton film.

Di zaman sekarang ini menonton film bisa dilakukan di mana saja, di bioskop, di rumah, di jalan, bahkan di toilet umum. Meski begitu, tidak ada yang bisa menggantikan kenikmatan menonton film di ruangan gelap dengan layar besar dan tata suara yang menggelegar. Lebih seru lagi kalau bisa nonton ramai-ramai, karena kita bisa serius bareng, ketawa bareng, bahkan menangis bareng. Seusai credit title bergulir, kita pun bisa langsung membahas film yang baru ditonton.

Sensasi menonton semacam ini bisa kita dapatkan di bioskop, sayangnya tidak semua film diputar di bioskop. Film-film yang dibuat secara swadaya, semisal film-film produksi komunitas, hampir tidak mungkin masuk bioskop karena tata distribusi kita belum mampu mengakomodir hal tersebut. Pertimbangkan juga lokasi bioskop yang ada sekarang kebanyakan di kota-kota besar. Bagaimana dengan kawan-kawan kita di kota kecil dan pedalaman?

Memang, sekarang ini, sudah ada beberapa tempat pemutaran film non-bioskop. Tempat pemutaran ini dibuat hampir menyerupai sebuah ruang bioskop, tetapi dengan skala yang lebih kecil. Biasanya hanya muat 8-30 orang saja. Tempat ini menerima siapa saja yang ingin memutar/menonton filmnya di sana, tanpa perlu ada kontrak atau apalah. Sayangnya tempat-tempat semacam ini masih sangat terbatas jumlahnya, mengingat modal untuk membangun ruang pemutaran semacam ini tidaklah sedikit.

Cara paling efektif (dan masih lazim digunakan) untuk melakukan pemutaran yang dapat mencapai penonton di pedalaman adalah pemutaran layar tancap. Kebutuhannya tidak banyak: cukup membentang layar, pasang peralatan, gelar tikar, dan pemutaran dapat dimulai. Tidak perlu membangun ruangan dengan peredam dan setting akustik. Memang ketiadaan kedua hal ini menghadirkan sejumlah masalah tersendiri: lokasi pemutaran berisik, kadang suara orang seliweran mengalahkan suara film, speaker tidak cukup kuat untuk meredam suara lingkungan, dan sejenisnya.

Tapi marilah kita melihat ini bukan sebagai masalah, tapi sebagai tantangan. Justru di situ serunya pemutaran layar tancap, dan pemutaran layar tancap dengan kualitas gambar dan tata suara yang layak bukannya tidak mungkin diwujudkan. Layak dalam kasus ini adalah penggunaan proyektor yang mumpuni dan juga tata suara 5.1 Surround seperti di gedung bioskop.

Seperti yang kita ketahui, hampir semua gedung bioskop mengadopsi sistem tata suara Surround. Sistem ini diciptakan untuk menambah kenikmatan menonton, dimana penonton akan merasa berada didalam ruang cerita film yang sedang disaksikannya.

Sayangnya pemutaran layar tancap selama ini hampir tidak pernah bisa menyamai atau bahkan mendekati kualitas yang kita dapatkan di gedung bioskop. Beberapa waktu lalu saya mengikuti acara layar tancap pemutaran film yang saya kerjakan, Postcards From The Zoo, di Kineruku, Bandung. Film ini dibuat menggunakan format 35mm dan tata suara 5.1 Surround. Pemutaran hari itu cukup sukses dengan tiket yang sold out. Tetapi saya merasa tidak puas dengan kualitas gambar dan suara yang disajikan ke penonton, yang kebetulan harus membayar untuk pemutaran film tersebut. Seusai pemutaran saya sempat mengobrol dengan seorang teman dari kampus saya, dia seorang pekerja di bidang televisi. Dia sangat menyayangkan dengan kualitas proyektor yang dipakai. Pada waktu itu layar yang dipakai lebarnya hampir tiga meter, tetapi proyektor yang dipakai hanya beresolusi VGA (640×480) dengan intensitas cahaya sekitar 1.500 lumens. Filmnya pun hanya diputar menggunakan DVD; gambar yang terlihat di layar tidak terlalu terang dan buram.

Dari obrolan itu saya tiba-tiba teringat ketika saya dulu datang ke Pusan International Film Festival 2008. Ada satu venue bernama Open Air Cinema, yang pada dasarnya adalah pemutaran film di tempat terbuka, tapi tanpa mengurangi kualitas seperti di bioskop pada umumnya. Proyektor yang digunakan pada waktu itu adalah proyektor 35mm, dan tata suara yang digunakan adalah 5.1 Surround. Beberapa speaker surround diletakan mengelilingi penonton yang duduk di kursi lipat, persis seperti gedung bioskop.

Saya lalu berpikir, mengapa tidak mengadakan pemutaran di ruang terbuka tapi dengan kondisi selayaknya gedung bioskop?

Untuk mencapai kondisi layak ini, kita perlu memperhatikan film yang akan diputar dan lokasi pemutarannya. Format film yang dipakai adalah film dengan resolusi video 1920×1080 (FullHD) dan tata suara 5.1 Surround. Mengapa harus FullHD? Karena video dengan resolusi ini cukup mumpuni untuk diproyeksikan ke layar besar (tentunya jika menggunakan proyektor yang resolusinya mencukupi). Video dan suara ini harus dibuat menjadi file *.mkv (Matroska Multimedia Container). File MKV ini nantinya akan berisi file video FullHD dan file audio DTS-HD.

Lalu bagaimana cara membuat file MKV dengan resolusi FullHD dan tata suara 5.1 Surround? Akan saya coba jelaskan di sini.

Menyiapkan Video FullHD

Dengan perkembangan teknologi broadcast saat ini, video FullHD sudah bukan lagi khusus untuk pemakaian profesional. Bahkan kamera-kamera video konsumer pun sekarang sudah banyak yang menggunakan resolusi FullHD. Dan dengan banyaknya sekarang film-film Indonesia, entah itu film pendek ataupun film panjang, yang dibuat menggunakan DSLR, video FullHD sudah bukan barang asing lagi.

Untuk persiapannya, video dari film yang sudah di-edit (dan di-grading, bila melewati tahapan itu) harus di-render menjadi file Quicktime dengan codec JPEG2000. Apabila di software editing yang dipakai tidak ada option untuk render ke JPEG2000, render ke format dengan settingan gambar terbaik (Apple ProRes 4444 atau Uncompressed), lalu buka video itu di Quicktime Pro dan render ke JPEG2000.

Render video ke JPEG2000 menggunakan Quicktime Pro

Render video ke JPEG2000 menggunakan Quicktime Pro

Hasilnya adalah file *.mov dengan codec JPEG2000. File ini lalu di-render menjadi file *.mkv menggunakan ImToo Video Encoder Ultimate.

Render mkv menggunakan ImToo Ultimate Encoder

Render mkv menggunakan ImToo Ultimate Encoder

Setting untuk membuat file MKV ada di bagian bawah, dari pilihan Profile yang sudah ada. Lalu di kolom bagian kanan, kolom Profile, ada tanda segitiga ke kanan. Klik itu untuk membuka kolom baru, Advance Profile Setting. Berikut setting untuk render MKV:

  • Video Codec: H.264/MPEG-4 AVC
  • Video Size: 1920×1080
  • Bitrate: 40000K
  • Frame Rate: Auto (atau sesuaikan dengan Frame Rate video yang dipakai)
  • Preset: Slower
  • Profile: High
  • Zoom: Full (Keep Aspect Ratio)
  • Aspect Ratio: 16:9 (atau sesuaikan dengan Aspect Ratio dari video yang dipakai)
  • Same Quality: YES (dicontreng)
  • 2-pass: YES (dicontreng)
  • Encode Mode: VBR
  • Disable Audio: YES (dicontreng) -> Audio akan di-render terpisah.

Hasilnya adalah file H264/MP4 AVC didalam kontainer MKV (*.mkv).

Tata Suara 5.1 Surround

Supaya bisa menikmati film dengan tata suara 5.1 Surround, kita perlu materi film dengan tata suara 5.1 Surround juga. Sayangnya saya tidak bisa menjelaskan bagaimana cara mixing film 5.1 di sini, sebab akan kepanjangan karena mencakup masalah teknis, teori, konsep, dan lain-lain. Yang bisa saya jelaskan adalah DAW (digital audio workstation) yang bisa dipakai untuk menghasilkan hasil mixing 5.1 Surround: Avid Pro Tools HDX/Pro Tools HD/Pro Tools dengan Complete Production Toolkit; Sony Vegas Pro, Steinberg Nuendo, dan sebagainya.

Hasil mixing 5.1 Surround ini harus di-render menjadi file DTS-HD Master Audio (*.dtshd) menggunakan software DTS-HD Master Audio Suite Encoder.

DTS-HD-Encoder

DTS-HD-Encoder

Tidak ada settingan yang perlu diubah di software ini. Cukup pilih Channel Layout (format Surround) yang akan dipakai (5.1 Surround) dan juga Frame Rate-nya disesuaikan dengan video yang dipakai.

Setelah kedua file siap, keduanya harus digabungkan (muxing) kedalam file *.mkv yang sudah dibuat sebelumnya.

Proses ini dilakukan menggunakan MKVToolnix 6.2.0. Installer MKVToolnix akan menginstal dua aplikasi: mkvmerge GUI dan mkvextract GUI. Kita akan menggunakan mkvextract GUI.

Muxing dengan mkvmerge

Muxing dengan mkvmerge

Hasilnya berupa file *.mkv yang dapat diputar dengan komputer menggunakan software Gom Player dan VLC Player dan juga bisa diputar di HD Media Player.

Hasil mkv

Hasil mkv

Setelah materi video siap, kita harus menyiapkan peralatan untuk pemutaran. Pada gedung bioskop, peralatan audio dibagi jadi dua: A-Chain dan B-Chain.
A-Chain merupakan peralatan yang merupakan peralatan playback film (source) dan processor-nya. Pada bioskop konvensional peralatan ini meliputi proyektor 35mm dan Dolby Cinema Processor. Pada bioskop sekarang ini yang menggunakan Digital Projection, peralatannya meliputi Video Server, Harddisk Video, Dolby Cinema Processor dan Digital Projector.
B-Chain merupakan peralatan amplifikasi audio (Amplifier), Crossover, dan Speaker.

A-B Chain (gambar diambil dari lenardaudio.com)

A-B Chain -> gambar diambil dari http://www.lenardaudio.com

Untuk sistem Layar Tancep 5.1 ini, saya akan coba terapkan sistem A-Chain dan B-Chain, untuk memudahkan apabila akan melakukan upgrade di hari-hari mendatang.

Peralatan A-Chain

A1. HD Media Player
A2. Digital Video Projector
A3. Digital Audio Processor/Pre-Amp

Peralatan B-Chain

B1. Un-Balanced to Balanced Cable Converter (opsional)
B2. Mixer
B3. Speaker Aktif Kecil
B4. Power Amplifier
B5. Speaker Pasif Besar
B6. Speaker Aktif Besar/Powered Loudspeaker
B7. Audio Cross-Over (opsional)
B8. Sub-Woofer (opsional)

A1. HD Media Player

PopCornHour A300

PopCornHour A300

HD Media Player diperlukan untuk playback video HD yang sudah kita buat. Sekarang alat ini sudah tersedia dalam berbagai merk dan type. Disarankan menggunakan player yang memiliki output HDMI, Coaxial dan Optical Audio Output. Dengan output video 1080p.

Merk dan type yang saya sarankan: PopCornHour A300
Dapat dibeli di: www.enterkomputer.com/mediaplayer.php (Jakarta)

A2. Digital Video Projector
Proyektor untuk menampilkan gambar ke layar tancep. Ada banyak sekali jenis proyektor di pasaran. Tetapi untuk kebutuhan layar tancap sebaiknya digunakan proyektor dengan resolusi tinggi dan intensitas cahaya yang mencukupi. Idealnya, resolusi minimal 1080p, dengan intensitas cahaya minimal 3600 lumens.

Merk dan type yang saya sarankan: InFocus IN 3128HD
Dapat dibeli di: www.enterkomputer.com/projector.php (Jakarta)

A3. Digital Audio Processor/Pre-Amp

HLLY DTS AC3 5.1 DIGITAL AUDIO DECODER

HLLY DTS AC3 5.1 DIGITAL AUDIO DECODER

Alat ini dipakai untuk mengeluarkan suara surround dari HD Media Player. Ada beberapa merk dan type yang tersedia dengan harga murah, tetapi kebanyakan tidak memiliki pengatur suara (volume control). Dengan adanya fasilitas Multichannel Volume Control, kita dapat menaik-turunkan volume suara semua channel sekaligus. Alat ini hanya bisa men-decode DTS biasa (lossy compression), tetapi tetap bisa membaca audio yang sudah kita buat, DTS-HD Master Audio (lossless compression), karena format tersebut tetap kompatibel dengan standar versi sebelumnya (backward compatible). Sampai sekarang belum ada yang menjual Decoder DTS-HD MA dengan harga ekonomis, tetapi saya yakin dalam beberapa tahun ke depan akan beredar decoder DTS-HD dengan harga murah. Dengan materi video yang sudah dibuat dengan audio DTS-HD, film kita sudah siap untuk alat tersebut.

Merk dan type yang saya sarankan: HLLY DTS AC3 5.1 DIGITAL AUDIO DECODER
Dapat dibeli di: www.ebayitem.com/330385280557 (China)

B1. Mixer
Mixer akan dibutuhkan apabila pada pemutaran itu akan dibutuhkan microphone atau musik dari CD dan sebagainya. Mixer hanya dibutuhkan yang ukuran kecil, asalkan cukup lengkap: ada input buat Microphone dan Balanced Line Level input dari Digital Audio Processor.

Merk dan type yang saya sarankan: Behringer XENYX 1204USB
Dapat dibeli di: www.tiganegeri.com/web/Mixers/Behringer-XENYX-1204USB.html (Jakarta)

B2. Speaker Aktif Kecil

Speaker Aktif Kecil

Speaker Aktif Kecil

Untuk pemutaran layar tancep skala kecil, dengan lebar layar di bawah 4 meter (diagonal 181inch) misalnya, masih dapat menggunakan speaker aktif yang banyak dijual di toko-toko elektronik. Output RCA dari Digital Audio Processor dan dari Mixer dapat langsung dicolok ke speaker ini.

Merk dan type yang saya sarankan: Tidak ada merk dan type spesifik yang saya sarankan, karena harus disesuaikan dengan ukuran venue pemutaran Layar Tancep.
Dapat dibeli di: toko peralatan elektronik terdekat.

B3. Un-Balanced to Balanced Cable Converter (optional)
Untuk pemutaran layar tancep dengan skala lebih besar, dengan lebar layar di atas 4 meter (diagonal 181 inch), maka membutuhkan speaker yang lebih besar (Speaker Pasif ataupun Speaker Aktif Besar). Speaker Pasif membutuhkan Power Amplifier Profesional, dan biasanya Power Amplifier ini hanya mempunyai XLR (Balanced Connector) Input, karena menerima input dari sebuah Mixer. Speaker Aktif Besar juga biasanya hanya mempunyai input XLR, jarang yang memiliki input RCA. Sementara output dari Digital Audio Processor yang dipakai adalah RCA (Un-Balanced Connector), jadi kita membutuhkan sebuah Converter dari RCA (Un-Balanced) ke XLR (Balanced). Koneksi dari RCA ke XLR bisa diakali dengan membuat adapter XLR to RCA.

XLR to RCA Connector

XLR to RCA Adapter

Tetapi saya tidak menyarankan menggunakan cara ini, karena biasanya akan menghasilkan sinyal suara yang terlalu lemah dan terkadang menghasilkan suara dengung. Hal ini dikarenakan:

  • Level sinyal peralatan audio konsumer yang menggunakan koneksi RCA (CD Player, DVD-Player dan juga Digital Audio Processor yang kita pakai) nominalnya adalah -10dBV (0.32V RMS). Sementara level sinyal peralatan audio profesional yang menggunakan koneksi XLR adalah +4dBV (1.23V RMS). Jadi kasarnya, peralatan audio profesional membutuhkan sinyal 14dB lebih tinggi.
  • Koneksi XLR memakai tiga kawat penghantar. Dua kawat untuk membawa sinyal positif dan negatif, kawat ketiga sebagai shield/ground. Koneksi RCA hanya menggunakan dua kawat, oleh sebab itu rentan terhadap noise RFI/hum.
  • Setiap peralatan mengeluarkan sinyal gound-nya sendiri. Ketika dua peralatan disambungkan melalui kabel interconnect, kedua sinyal ground tersebut akan bertemu di kabel interconnect tersebut, dan biasanya sinyal mengganggu itu akan masuk ke peralatan yang saling terhubung.

Un-Balanced to Balanced Cable Converter digunakan untuk menjembatani perbedaan ini.

Tascam LA-80mkII

Tascam LA-80mkII

Merk dan type yang saya sarankan: Tascam LA-80MKII
Dapat dibeli di: www.bhphotovideo.com/c/product/600780-REG (USA)

B4. Power Amplifier
Power amplifier dibutuhkan apabila kita menggunakan Speaker Pasif berukuran besar. Saya tidak tahu kapasitas berapa yang harus dipakai, karena saya belum pernah mengerjakan proyek yang melibatkan instalasi Speaker Pasif.

Merk dan type yang saya sarankan: Tidak ada merk dan type spesifik yang saya sarankan, karena harus disesuaikan dengan ukuran venue pemutaran Layar Tancep.
Dapat dibeli di: toko peralatan audio profesional terdekat

B5. Speaker Pasif Besar
Untuk pemutaran skala besar (lebar layar lebih dari 4 meter) kita membutuhkan Speaker Pasif Besar.
Speaker dibagi menjadi dua tipe: Speaker Two-Way dan Three-Way. Pembagian ini mengacu pada jumlah driver yang digunakan pada set Speaker tersebut.

JBL Two-Way Speaker

contoh Two-Way Speaker

Speaker Two-Way menggunakan dua driver: driver Woofer untuk mereproduksi suara frekwensi rendah, dan driver Tweeter untuk mereproduksi suara frekwensi tinggi.

JBL Three-Way Speaker

contoh Three-Way Speaker

Speaker Three-Way menggunakan tiga driver: driver Woofer untuk mereproduksi suara frekwensi rendah, driver Mid-Range untuk mereproduksi frekwensi mid/tengah dan driver Tweeter untuk mereproduksi suara frekwensi tinggi. Pemasangan amplifier ke speaker juga dibagi menjadi empat jenis: Standard/Konvensional, Bi-Wiring, Bi-Amping, dan Tri-Amping

instalasi speaker Standard -> gambar diambil dari http://forum.blu-ray.com/showthread.php?t=56058

instalasi speaker Standard -> gambar diambil dari http://forum.blu-ray.com/showthread.php?t=56058

Pemasangan speaker Standard/Konvensional adalah pemasangan speaker yang biasa dilakukan. 1 channel amplifier digunakan untuk satu set speaker.

instalasi speaker Bi-Wiring -> gambar diambil dari http://forum.blu-ray.com/showthread.php?t=56058

instalasi speaker Bi-Wiring -> gambar diambil dari http://forum.blu-ray.com/showthread.php?t=56058

Bi-Wiring -> gambar diambil dari http://www.sound.westhost.com/bi-amp.htm

Skema Bi-Wiring -> gambar diambil dari http://www.sound.westhost.com/bi-amp.htm

Pemasangan speaker Bi-Wiring agak jarang dilakukan pada peralatan profesional. Satu channel amplifier digunakan untuk satu set speaker, tetapi kabel speaker dipecah menjadi dua, dan dipasang pada konektor driver Woofer (Low) dan Tweeter (High).

instalasi speaker Bi-Amping -> gambar diambil dari http://forum.blu-ray.com/showthread.php?t=56058

instalasi speaker Bi-Amping -> gambar diambil dari http://forum.blu-ray.com/showthread.php?t=56058

skema Bi-Amping -> gambar diambil dari http://www.sound.westhost.com/bi-amp.htm

skema Bi-Amping -> gambar diambil dari http://www.sound.westhost.com/bi-amp.htm

Pemasangan speaker Bi-Amping adalah pemasangan speaker dimana 1 channel amplifier digunakan untuk satu driver. Pada speaker Two-Way, output dari satu channel dipasang pada konektor driver Woofer (Low), dan output channel satu lagi dipasang pada konektor driver Tweeter (High).

skema Tri-Amping -> gambar diambil dari http://www.rocketroberts.com/techart/multi_amp.htm

skema Tri-Amping -> gambar diambil dari http://www.rocketroberts.com/techart/multi_amp.htm

Pemasangan speaker Tri-Amping juga merupakan pemasangan speaker di mana satu channel amplifier digunakan untuk satu driver. Untuk pemakaian pada speaker Three-Way membutuhkan tiga channel amplifier, karena ada tiga driver yang membutuhkan amplifikasi: Woofer, Mid-Range dan Tweeter.

Merk dan type yang saya sarankan: Tidak ada merk dan type spesifik yang saya sarankan, karena harus disesuaikan dengan ukuran venue pemutaran Layar Tancep.
Dapat dibeli di: toko peralatan audio profesional terdekat

B6. Speaker Aktif Besar/Powered Loudspeaker
Speaker Aktif Besar atau biasa disebut Powered Loudspeaker lebih praktis dalam penggunaannya, karena Power Amplifier sudah ada didalam box Laoudspeaker tersebut. Tetapi harganya lebih mahal dibandingkan kita membeli Speaker Pasif dan Power Amplifier.

Merk dan type yang saya sarankan: Tidak ada merk dan type spesifik yang saya sarankan, karena harus disesuaikan dengan ukuran venue pemutaran Layar Tancep.
Dapat dibeli di: toko peralatan audio profesional terdekat

B7. Audio Cross-Over (optional)

Behringer SUPER-X PRO CX2310

Behringer SUPER-X PRO CX2310

Cross-Over dibutuhkan jika kita akan menggunakan sistem Bi-Amping atau Tri-Amping. Cross-Over akan memecah sinyal audio yang masuk menjadi dua grup Frekwensi (Low dan High pada system Two-Way) atau tiga grup frekwensi (Low, Mid dan High pada sistem Three-Way).

Mengapa sinyal audio ini harus dipecah? Karena terkadang terjadi cross-talk antara driver, di mana ada sinyal frekwensi rendah yang masuk ke driver Tweeter atau sebaliknya. Hal ini dapat menyebabkan distorsi suara atau bahkan memperpendek umur driver tersebut.

Merk dan type yang saya sarankan: Behringer SUPER-X PRO CX2310
Dapat dibeli di: www.tiganegeri.com/web/Signal-Processors/Behringer-SUPER-X-PRO-CX2310.html

B8. Sub-Woofer (optional)
Sub-Woofer sifatnya amat sangat optional, karena film-film Indonesia pada umumnya jarang menggunakan channel ini. Kecuali jika pemutaran layar tancep itu berencana memutar film-film action Hollywood, pemakaian Sub-Woofer perlu dipertimbangkan.

Merk dan type yang saya sarankan: Tidak ada merk dan type spesifik yang saya sarankan, karena harus disesuaikan dengan ukuran venue pemutaran Layar Tancep.
Dapat dibeli di: toko peralatan audio profesional terdekat

Penempatan Speaker
Penempatan speaker Layar Tancep 5.1 disamakan dengan posisi speaker pada ruang Bioskop maupun ruang Home Theater.

Grammy Recommendation - Movie Theater Speaker Placement

Grammy Recommendation – Movie Theater Speaker Placement

Di ruangan Bioskop terdapat tiga speaker besar di depan yang terdiri dari channel Kiri (Front Left – L), channel Tengah (Center – C) dan channel Kanan (Front Right – R). Di tembok sisi kiri, kanan dan belakang ruangan itu terdapat susunan speaker yang lebih kecil untuk mengakomodasi dua channel Kiri Belakang (Left Surround – Ls) dan Kanan Belakang (Right Surround – Rs).

Grammy Recommendation - Home Theater Speaker Placement

Grammy Recommendation – Home Theater Speaker Placement

Di ruangan Home Theater terdapat 3 speaker didepan yang terdiri dari channel Kiri (Front Left – L), channel Tengah (Center – C) dan channel Kanan (Front Right – R). Di tembok sisi kiri dan kanan agak belakang ruangan itu terdapat dua speaker yang lebih kecil untuk mengakomodasi dua channel Kiri Belakang (Left Surround – Ls) dan Kanan Belakang (Right Surround – Rs). Pada ruangan bioskop maupun home yheater, speaker Kiri dan Kanan Depan biasanya diarahkan ke posisi penonton yang duduk di jarak 2/3 panjang ruangan diukur dari depan.

Perbedaan Front Speaker dan Surround Speaker
Untuk pemutaran menggunakan Speaker Aktif Kecil, type speaker yang digunakan untuk Front Speaker (Front Left, Center dan Front Right) dengan Surround Speaker (Left Surround dan Right Surround) dapat menggunakan type yang sama.
Tapi untuk pemutaran menggunakan Speaker Aktif Besar, type speaker yang digunakan mungkin harus dibedakan, tetapi kalau tidak memungkinkan, memakai type speaker yang sama juga tidak terlalu masalah.
Pada gedung bioskop, Front Speaker yang digunakan biasanya seperti gambar contoh di sub-bagian Speaker Pasif Besar, sementara untuk Surround Speaker biasanya memakai Speaker yang berukuran lebih kecil.

Contoh Surround Speaker

Contoh Surround Speaker

Penggunaan speaker berukuran lebih kecil ini karena biasanya level suara pada Surround Channel tidak sekeras Front Channel. Dan biasanya digunakan beberapa buah speaker ini per-channel Surround. Sehingga speaker ini mengelilingi penonton. Tetapi kalau tidak memungkinkan untuk menyediakan banyak speaker kecil, biasa juga menggunakan speaker besar untuk Surround Channel.

Instalasi Layar Tancep 5.1

Berikut skema-skema instalasi Layar Tancep 5.1 sesuai dengan peralatan yang akan dipakai.

gambar 26 - Instalasi Layar Tancep 5.1 - Speaker Two-Way Pasif + Mixergambar 27 - Routing MixerSetelah semua peralatan audio dan layar sudah siap dan terpasang, kita perlu menghitung jarak antara proyektor dan layar, tergantung dari jenis proyektor dan ukuran layar yang digunakan. Buka link ini untuk menentukan jarak proyektor dari layar: www.projectorcentral.com/projection-calculator.cfm

Catatan Akhir
Biaya yang dibutuhkan untuk pembelian peralatan-peralatan ini, memang agak mahal. Terutama untuk peralatan dari sisi A-Chain. Untuk Media player mungkin masih bisa diakali dengan penggunaan PC Desktop ataupun Laptop. Tapi untuk merakit PC Desktop yang memadai untuk memutar ulang video kualitas HD pun tidak cukup dana 3 juta Rupiah, sementara HD Media Player sekarang ini harganya sudah semakin murah, bahkan ada yang hanya 2 jutaan saja.
Untuk peralatan di sisi B-Chain hampir semuanya dapat dirakit atau dibuat secara custom.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk memperbaiki kualitas gambar dan suara pada pemutaran Layar Tancep.
Selamat Menonton!

Fast & Furious 6

Sebelumnya mau ngucapin terima kasih dulu ke Denny Handoyo yang udah ngasih undangan premiere Fast & Furious 6.. 🙂

Film ini melanjutkan cerita di Fast 5, dimana tim Dominic Toretto (Vin Diesel) berhasil merampok bank dan menjalani kehidupan sebagai pelarian.
Dibuka dengan adegan balapan antara Toretto dan Brian (Paul Walker) di jalanan tebing pinggir pantai kepulauan Canary. Dari opening sequence yang cukup menegangkan ini aja udah bisa ketebak: Film ini bakal seru!
Lalu kita dibawa ke London untuk diperkenalkan dengan rekan kerja agen Hobbs (Dwayne Johnson) yang baru, Riley (Gina Carano). Mereka lalu memeriksa TKP dimana baru saja terjadi perampokan rombongan militer yang membawa suku cadang tertentu yang bisa dirakit menjadi senjata.
Dari modus perampokan itu Hobbs langsung memutuskan kalo dia butuh bantuan tim Toretto.
Hobbs lalu mendatangi Toretto ditempat persembunyiannya, dan meminta bantuannya.
Cerita pun berlanjut.. 🙂

Cerita di film ini menurut gw berjalan agak lambat, untungnya diselingi dengan adegan-adegan action yang seru. Dan juga unsur komedi yang diselipkan. Ada beberapa yang cukup bikin ketawa ngakak.
Gw suka banget dengan adegan-adegan Han dan Roman. Kocak.

Adegan action di film ini lebih seru dari film sebelumnya, walaupun ada beberapa yang tidak logis. Tapi ya sudahlah ya.. Gw nonton film ini untuk hiburan, bukan untuk mikirin logika (???)

Selamat buat Joe Taslim. Orang Indonesia pertama yang main di film Blockbuster Hollywood.
Di film ini dia ga banyak dialog, karena cuma sebagai pemeran pembantu, tetapi adegan perkelahian dia keren banget. Cocok banget perannya jadi Tough Villain. Semoga dari film ini namanya makin melesat di dunia internasional.

Akting antagonis Luke Evans sebagai Owen Shaw menurut gw agak kurang. Kurang menggambarkan kesadisannya. Baru terlihat ketika adegan kejar-kejaran dengan Tank.

Menjelang akhir film ada twist yang menurut gw agak aneh, bikin gw mikir terus mpe keluar dari gedung bioskop.

Di ending film ada adegan tambahan yang memperkenalkan tokoh antagonis baru. Kalo yang ini kayanya bakal lebih sadis nih dibanding luke Evans.

My rating? 8 dari 10

Interstellar: (kabarnya) Film terakhir yang di shoot dan ditayangkan dalam format IMAX 15/70

Setelah kesuksesan Christopher Nolan dengan merekam sebagian adegan dalam The Dark Knight menggunakan kamera seluloid IMAX, beberapa filmmaker mencoba mengikuti langkah ini. Seperti misalnya Michael Bay di film Transformers: Revenge of The Fallen (total 10 menit menggunakan IMAX), Brad Bird di film Mission Impossible: Ghost Protocol (total 30 menit menggunakan IMAX), JJ Abrams di film Star Trek: Into Darkness (sekitar 30 menit menggunakan IMAX) dan juga Francis Lawrence di film Hunger Games: Catching Fire.
Kesan yang didapatkan ketika menonton dalam format ini adalah: WHOW!!!
Semua yang ditampilkan di layar terlihat BIGGER THAN LIFE.
Karena layar raksasa itu hampir memenuhi sudut pandang penglihatan kita, kita seakan berada didalam adegan dalam film yang tengah kita saksikan. Efek ini bahkan terasa ketika kita menonton dalam format 2D sekalipun.
Pada film The Dark Knight Rises, Nolan menggunakan format IMAX hampir 1/3 total durasi film tersebut. Format ini kebanyakan dipakai pada adegan-adegan action.

Setelah TDKR, proyek Nolan berikutnya adalah Interstellar. FIlm ini bercerita tentang perjalanan antar-bintang menembus waktu dan dimensi, berdasarkan teori yang dicetuskan oleh ilmuwan fisika, Kip Thorne, mengenai Black-Hole dan Worm-Hole.

Film ini direncanakan rilis pada 07 November 2014.
Pada Cast List-nya terdapat nama Matthew McConaughey, Anne Hathaway, Jessica Chastain dan Michael Caine..
Hoyte Van Hoytema ditunjuk sebagai Director of Photography. Ini adalah pertama kalinya Nolan tidak bekerjasama dengan Wally Pfister sebagai DoP-nya.

Film ini akan di shoot menggunakan kamera IMAX 15/70.
Ada rumor mengatakan Nolan akan menggunakan format IMAX pada keseluruhan film ini. Ada juga rumor mengatakan bahwa dia hanya akan menggunakan format IMAX pada sebagian adegan, tetapi porsinya akan lebih banyak dari TDKR.

Kabarnya, Interstellar akan menjadi film terakhir yang di shoot dan ditayangkan menggunakan format IMAX 15/70. Ini dikarenakan pada akhir tahun 2014 IMAX akan mengeluarkan Proyektor Digital terbarunya, yang akan menggantikan semua Proyektor Digital IMAX dan Proyektor 15/70 yang sekarang digunakan.
Proyektor baru ini menggunakan teknologi Laser sebagai sumber cahaya, dan akan mampu menerangi layar raksasa IMAX.

Mixed Foil Yaki

Gara-gara pernah makan di salah satu resto Teppan di Plaza Senayan, disana gw liat ada yang namanya Salmon Foilyaki di menunya. Tampilannya menarik. Ikan salmon yang dicampur sayuran dan pake bumbu Teppan, dibungkus aluminum foil. Waktu itu ga nyoba menu itu, tapi Teppan biasa. Tapi gw selalu penasaran untuk bikin sendiri.
Seperti biasa, gw googling dulu bumbu apa aja yang biasa dipake untuk bikin Teppanyaki.
Ternyata melibatkan Soy Sauce (kecap asin) dan Mirin.. Hmm.. Setau gw, kedua bahan itu merupakan dasar untuk bikin saus Teriyaki..
Akhirnya, gw memutuskan untuk bikin Foil Yaki pake saus Teriyaki.

Bahan-bahan yang gw pake:
– Ikan Salmon fillet (dengan kulit, cabut duri2 yang masih menempel di dagingnya)
– Udang (jenis Jerbung ato Pancet. Yang gede lah. Kupas kulitnya)
– Cumi (dibersihin, potong-potong)
– Daging Ayam fillet (potong-potong)
– Jamur Shimeji
– Jamur Shitake (karena ini merupakan jamur favorit gw)
– Tauge
– Sawi Hijau
– Bawang Bombai

Bumbu:
– Bawang putih (dicacah atau di crushed)
– Teriyaki Marinade
– Lada Hitam

Cara membuat:
1. Ikan salmon, udang, cumi dan ayam ditaro di wadah plastik.

Salmon Fillet, Udang, Cumi, Ayam Fillet

2. Rendam dengan Teriyaki Marinade. Simpan di kulkas. Minimal 1 jam.

Salmon Fillet, Udang, Cumi, Ayam Fillet direndam saus Teriyaki
3. Siapkan Aluminum Foil untuk memasak. Basahi dengan minyak. Gw pake Olive Oil Spray. Taro cacahan bawang putih tadi diatasnya.

4. Susun daging ikan, udang, cumi dan ayam tadi diatas Aluminum Foil.

Salmon Fillet, Udang, Cumi, Ayam Fillet disusun di Aluminum Foil
5. Bubuhi lada hitam diatas daging yang sudah disusun tadi.

Salmon Fillet, Udang, Cumi, Ayam Fillet dibubuhi lada hitam
6. Susun sisa bahan-bahan sayuran yang sudah dipotong-potong. Urutannya sih bebas aja. Tapi kalo susunan gw:

Jamur Shitake

Jamur Shitake

Jamur Shimeji

Jamur Shimeji

Daun Sawi Hijau

Daun Sawi Hijau

Tauge

Tauge

Bawang Bombai

Bawang Bombay

7. Tuang sedikit sisa marinade keatas sayuran.

Tuang sedikit marinade

8. Tutup rapat Aluminum Foil.

Aluminum Foil ditutup rapat

9. Panggang di oven. Gw pake oven listrik. Suhu 150 derajat Celcius. Pemanas atas dan bawah. 35 menit.

10. Keluarkan dari oven.

Begitu lipatan Aluminum Foil dibuka, wangi saus Teriyaki langsung menyebar bareng uap panas dari kuah yang berasal dari semua daging dan sayuran didalamnya. Slurp! 🙂

Mixed Foil Yaki

Mixed Foil Yaki

Yang pertama dicicip daging ayamnya. Bumbu Teriyaki udah meresap banget ke daging ayam itu. Empuk dan juicy.
Berikutnya yang dicicip jamurnya. Karena emang sifat dari jamur itu menyerap cairan, bumbu Teriyaki juga udah meresap dan kerasa banget di jamurnya. Shitake maupun Shimeji.
Akhirnya makan bareng nasi. Sungguh nikmat Mixed Foil Yaki ini. Bikinnya gampang banget!
Nyoba nyeruput kuahnya. Huhuhu. Enyakenyakenyak. Kuahnya manis dan ada sedikit rasa lada hitam.
Daging cumi dan udang sedikit over-cooked. Mungkin karena seharusnya kedua daging ini ga boleh terlalu lama ya masaknya. Udangnya udah jelas. Karena kelamaan dimasak. Jd agak kering dagingnya, gak juicy. Sementara cuminya, mungkin juga karena gw make cumi yg agak kecil, jadi dagingnya terlalu tipis. Tapi keduanya sih tetap enak.
Karena bintang utamanya adalah si ikan Salmon, gw makan paling terakhir. Dan ternyata emang cocok banget untuk dimakan terakhir. Saved the best for last.. Dagingnya jadinya uenak banget. Rasa bumbu teriyaki ga terlalu dominan, tapi tetap kerasa, dan dagingnya itu meleleh di lidah. Terutama kulitnya. Beuh! Gw biasanya ga suka ama kulit apapun yang direbus. Tapi ternyata kulit Salmon dimasak dengan bumbu ini pas banget. Sama seperti dagingnya, kulitnya juga meleleh dilidah.
Yang gw ga suka cuma daun Sawi Hijau-nya.. Jadinya terlalu layu, dan terlihat ga menarik banget untuk dimakan. Mungkin lain kali akan dicoba diganti dengan daun Kailan atau Bak-Choy..

Mixed Foil Yaki

Overall puas banget dengan eksperimen masak Mixed Foil Yaki ini.. 🙂

sedikit review: The Impossible

Gw udah 2 kali nonton film ini di bioskop, jadi iseng aja bikin review buat yang belum nonton..

Film karya Juan Antonio Bayona, sutradara asal Spanyol yang sebelumnya menggarap The Orphanage (2007), berkisah tentang salah satu dari ribuan keluarga yang tertimpa musibah Tsunami di pantai Khao Lak, Thailand pada tanggal 26 Desember 2004.

Henry dan Maria Bennet adalah pasangan suami istri dengan 3 anak laki-laki yang tinggal dan bekerja di Jepang. Mereka pergi ke Thailand untuk menikmati liburan Natal. Karena terjadi kesalahan administrasi hotel, mereka mendapat villa dipinggir pantai.
Suasana hari-hari pertama ditempat itu bagaikan berada di surga. Keluarga Bennet menikmati liburan, jauh dari pekerjaan.
Pagi 26 Desember, mereka berkumpul di kolam renang hotel tersebut. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah pantai. Di kejauhan terlihat pohon-pohon kelapa bertumbangan, dan tsunami pun datang.
Liburan indah bersama keluarga seketika berubah menjadi neraka.

Akting Naomi Watts dan Ewan McGregor bagus, tapi jadi biasa aja untuk aktor/aktris sekaliber mereka. Justru akting Tom Holland sebagai Lucas, anak tertua di keluarga itu yang cukup menonjol. Begitu masuk ke adegan tsunami, film ini lebih berkonsentrasi pada apa yang dialami oleh Maria dan Lucas. Dan akting mereka berdua bener-bener klop banget. Menyentuh. Gw juga suka banget dengan akting Samuel Joslin sebagai Thomas, anak kedua keluarga Bennet, yang tiba-tiba harus ditinggalkan bapaknya yang sedang mencari ibu dan kakaknya.

Adegan tsunaminya bener-bener nyeremin. Terutama buat gw yang ga bisa berenang. Huhuhu.
VFXnya keren banget. Efek tsunami dan air bah yang menerpa daratan bener-bener real. Salut buat VFX Supervisor dan Production Designer-nya.

Musik score-nya Fernando Velasquez juga pas. Kita ga dibombardir oleh musik pada adegan bencana, karena efek visual dan efek suara sudah cukup menjelaskan semuanya. Ketika semuanya mulai mereda, baru lah musik masuk untuk memperlihatkan kepada penonton penderitaan yang diakibatkan dari bencana itu.

Film yang menyentuh dan bagus.
Cocok untuk membuka 2013 dengan film berkualitas.

My rating: 9 out of 10

(kemungkinan) Penipuan/pembodohan Publik oleh IMAX Corp

SKYFALL Specially Formatted for IMAX

By IMAX on October 22, 2012

Di CoPas dari: http://www.imax.com/community/blog/skyfall-specially-formatted-for-imax/

Skyfall 007

Good news 007 fans! For the first time ever, you’ll be able to experience SKYFALL, the 23rd installment of the Bond franchise, one day early in IMAX on November 8th.

If you’re one of those eager fans who will be the first in line to see the film in IMAX, itll be a completely unique experience. This is because the IMAX presentation of SKYFALL will be specially formatted to feature a larger aspect ratio than the conventional release for the entirety of the film.

The filmmakers worked with the IMAX team in the post-production process to increase the aspect ratio of the film and designed the IMAX presentation of SKYFALL to allow audiences to see up to 26% more of the originally captured image.

Daniel Craig as 007

Expanding a films aspect ratio for IMAX is one of the reasons the IMAX experience is so different why you feel like you’re inside the action, not just watching it. But many of you are still wonderingwhat exactly does aspect ratio mean?

The technical term for the proportional relationship between an images width and its height is called aspect ratio. A film made for CinemaScope 2.41:1 (featured on the right in the image below), the standard in the industry, is cropped and uses only part of the image the movie camera captures.

IMAX broke the mold. Like with SKYFALL, we provide filmmakers with the ability to optimize their films aspect ratio for an IMAX screen during production by shooting with the extremely high-resolution IMAX camera (capable of up to IMAX® 1.43:1 up to 40% more of the picture) or in post-production (capable of up to IMAX® 1.90:1 up to 26% more of the picture).

Daniel Craig as 007

So what does this mean for moviegoers? You get to see much more of the original image, resulting in a full panoramic view that makes you feel part of the action.

See how much more you’ll see in IMAX in the comparison chart below:

Specially formatted for IMAX

Rada ga suka dengan caranya IMAX menjelaskan bahwa gambar dengan aspect ratio CinemaScope 2.41:1, yang merupakan standar industri sinema, adalah gambar yang di crop, dan hanya menggunakan sebagian gambar yang direkam oleh kamera.

Padahal di kamera film konvensional, untuk membuat gambar CinemaScope, gambarnya di ‘squeeze’ kanan kiri, bukan di CROP.. Jadi semua informasi gambar itu terekam diseluruh frame, tidak ada yang hilang.

Tapi tetep pengen nonton Skyfall di IMAX sih..

Tapi tetap aja ga suka dengan caranya orang2 marketing IMAX menipu publik yg ga ngerti teknis film..

Gw search di imdb untuk Technical Spec film Skyfall, mereka menggunakan kamera Arri Alexa M, Alexa Plus, Alexa Studio dan Red Epic (untuk shot-shot aerial)..

Dugaan awal gw, mereka shooting dengan Aspect Ratio 16:9, tetapi menggunakan framing CinemaScope 2.41:1.. Ternyata emang benar.. Di forum pribadi Roger Deakins (Director of Photography film Skyfall), dia menjelaskan bahwa dia menggunakan Aspect Ratio 16:9 pada kamera Alexa, tetapi framing yang dipakai adalah CinemaScope. Pada hasil akhirnya, gambar 16:9 digunakan untuk presentasi IMAX, dan gambar CinemaScope (hasil crop dari 16:9) digunakan untuk presentasi bioskop konvensional (D-Cinema ataupun 35mm)..

IMAX, perusahaan yang menciptakan dan menjual teknologi perekaman dan presentasi film Large Format menggunakan pita 70mm yang dijalankan horizontal (biasa disebut IMAX 15/70), sehingga menghasilkan gambar yang amat sangat besar. Karena alasan ekonomis, mulai memasarkan produknya menggunakan teknologi digital. Kesalahan terbesarnya adalah: mereka tetap menggunakan branding yang sama, IMAX. Padahal perbedaan kualitas gambar IMAX 15/70 dan IMAX Digital amat sangat signifikan.

sumber:

http://www.imax.com/community/blog/skyfall-specially-formatted-for-imax/

http://www.imdb.com/title/tt1074638/technical

http://www.rogerdeakins.com/forum2/viewtopic.php?f=2&t=1916

SamWon House >28 Juli 2012<

Pertengahan Mei 2012 lalu terima email penawaran yang amat sangat menarik dari LivingSocial.co.id, voucher diskon 50% untuk makan di resto Korea, SamWon House cabang Wolter Monginsidi. Harga itu udah termasuk Banchan, dessert dan ocha.

Langsung beli 4 voucher seharga Rp 200.000 (senilai Rp 400.000).

28 Juli gw dan Tika berangkat menuju SamWon House cabang Wolter Monginsidi (tapi kabarnya cabang yang ini mau tutup mulai Agustus 2012, jadi tinggal yang di Setiabudi One dan Puri Indah Mall).

Sebelum berangkat, buka websitenya SamWon House untuk liat-liat menunya dan berhitung.

Akhirnya diputuskan kalo disana nanti akan pesan:

dan karena masih ada sisa sedikit vouchernya, pesan ini:

Kunjung Jeongol-nya ada 2 macam porsi: porsi per-orang dan porsi besar (untuk 4-6 orang). Kita mesen yang porsi besar (lapermata.co.id).

5 menit setelah pelayan pertama nyatet pesanan kita, dateng pelayan lain, nanya untuk memastikan ‘pak, ini benar pesannya Kunjung Jeongol yang porsi besar?’.. Damn.. Kejadian di The Duck King terulang lagi.. Gw jawab ‘iya, mbak’ ‘Ooo.. Soalnya takut salah..’. Dulu pernah gw makan berdua di The Duck King PIM 2, pesan 1 ekor bebek panggang. Sampe ditanyain ama 4 pelayan yang berbeda untuk memastikan kita bener pesan itu.. Duhh..

Gak lama kemudian Banchan (Appetizer)-nya berdatangan:

Kimchi

Kimchi

Salad

Macem-macem Banchan

Sekitar 10 menit kemudian makanan pesanan kita mulai berdatangan..

Maeun-Galbi Chim

Daging iganya rasanya agak manis, dagingnya lembut banget, gampang lepas dari tulang.

Nakji Bokkeum

Tentakel Gurita.. Hmmm.. Bumbunya rasanya agak asem, seperti rasa kebanyakan makanan Korea pada umumnya. Enak. Cuma satu yang disayangnya, isinya sedikit. Lebih banyak sayurannya. ;p

Dolsot Bibimbap

Bibimbap. Rasanya sama seperti semua Bibimbap yang pernah gw makan. Enak lah.

Kunjung Jeongol

Ini dia nih star food-nya malam ini.. Kunjung Jeongol. Isinya ada jamur, sayuran, irisan daging tipis, ikan, udang, kepiting dan kerang.

Kunjung Jeongol

Kunjung Jeongol

Walau pas pesan tadi kita mintanya yang pedas, tapi menurut lidah gw kuahnya masih kurang pedas. Tapi yang pasti kuahnya itu kental banget. Dan penuh dengan rasa, karena campuran rasa dari bermacam-macam isinya.

Cuma satu yang gw bete. Gw ga tau yang dipake itu ikan apa. Ikannya itu 1 ekor utuh, dan jenis ikan yang banyak duri-duri kecil di dagingnya. Bikin ribet makannya. Huhuhu.

Selesai makan kenyang ampun-ampunan. Karena semuanya dihabisin. Bahkan kuah Kunjung Jeongol-nya pun habis. Tinggal kesisa sedikit banget, itu pun karena udah susah diambil pake sendok.  Hehehe.

Sisa Kunjung Jeongol

Restorannya sebenernya asik banget untuk makan rame-rame ama teman dan keluarga. Tapi kenapa sepi banget ya? Padahal makanannya juga enak.

Interior SamWon House

Setelah perut istirahat sebentar, minta bill-nya ke pelayan.

Berkat voucher dari LivingSocial, gw cuma ngabisin Rp262.800 untuk makan malam senilai Rp 462.800.